Mikafip.Com - Acara puncak Dies Natalis ke-49 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) digelar di Gedung Auditorium UNY, Selasa (21/05). Mengusung tema "Pendidikan untuk Pencerahan dan Kemandirian Bangsa", upacara peringatan Dies Natalis ke-49 kali ini dibuka langsung oleh Rektor UNY, Prof. Dr. Rochmat Wahab.
Pada awal acara, para undangan yang hadir disuguhi kirab Rektor dan Wakil Rektor UNY beserta Senat UNY. Selain itu juga para undangan disuguhi penampilan Tari Tendyo Kuswah yang dibawakan oleh mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY. Tari Tendyo Kuswah sendiri menggambarkan kesiapsiagaan seluruh civitas akademika UNY dalam mencapai visi, misi, dan tujuan bersama.
Dalam pidatonya dihadapan para undangan yang hadir, termasuk Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengkubuwono X dan jajaran unsur muspida DIY, Rochmat Wahab jika kegiatan peringatan Dies Natalis UNY menjadi salah satu media refleksi bagi seluruh elemen civitas akademika di UNY. "Bangga pada almamater merupakan salah satu cara mencapai kesuksesan kedepannya," ujar Rochmat Wahab.
Acara dilanjutkan dengan pidato Dies Natalis ke-49 oleh Sumarno, M.A, Ph.D yang berjudul "Pendidikan untuk Pencerahan dan Kemandirian Bangsa". Menurut Sumarno, gerakan perubahan yang sudah terjadi berabad-abad bisa menghasilkan perubahan peradaban dalam skala besar. Oleh karena itu, pencerahan perlu disertai dengan kewaspadaan dan komitmen untuk mengarahkan agar supaya menghasilkan kemajuan peradaban yang lebih hakiki.
"Pendidikan sekarang hanya berorientasi pada angka, namun guru dapat memberikan contoh jika pendidikan bukan hanya hasil, namun juga proses," ujar Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya. Orang nomor satu di jajaran pemerintahan DIY ini menyebutkan jika pendidikan bukan hanya mengenai penanaman moral, namun juga mengenai bagaimana moral yang sudah ditanamkan tersebut menjadi kekuatan pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan. (Abr/Kominfo)
Acara dilanjutkan dengan pidato Dies Natalis ke-49 oleh Sumarno, M.A, Ph.D yang berjudul "Pendidikan untuk Pencerahan dan Kemandirian Bangsa". Menurut Sumarno, gerakan perubahan yang sudah terjadi berabad-abad bisa menghasilkan perubahan peradaban dalam skala besar. Oleh karena itu, pencerahan perlu disertai dengan kewaspadaan dan komitmen untuk mengarahkan agar supaya menghasilkan kemajuan peradaban yang lebih hakiki.
"Pendidikan sekarang hanya berorientasi pada angka, namun guru dapat memberikan contoh jika pendidikan bukan hanya hasil, namun juga proses," ujar Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya. Orang nomor satu di jajaran pemerintahan DIY ini menyebutkan jika pendidikan bukan hanya mengenai penanaman moral, namun juga mengenai bagaimana moral yang sudah ditanamkan tersebut menjadi kekuatan pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan. (Abr/Kominfo)












