Namun, menurut saya, laku itu tentu tak dilakukan Syafi’i sepanjang hidupnya di saat malam. Salah satu imam madzhab itu lahir pada tahun 150 Hijriyah dan meninggal dunia pada tahun 204 Hijriyah. Adakah yang benar-benar merekam laku Imam Syafi’i saat malam hari selama 54 tahun usianya di dunia setepat mungkin?
Buku ini menarik dibaca demi menemukan keteladanan dari sosok Syafi’i yang kelahirannya bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Kelak Syafi’i mempelajari fikih Abu Hanifah dari murid Abu Hanifah bernama Muhammad ibn al-Hasan.
Meskipun tak pernah bersua langsung, kita sedikit banyak bisa berguru kepada Syafi’i lewat buku karya Dr. Tariq Suwaidan ini. Pada bagian empat bertajuk Prinsip Dasar dan Keistimewaan Mazhab Syafi’i, kita bisa berguru dengan mempelajari seluk beluk mazhabnya. Namun, berguru tentu tak sekadar itu. Kita pun bisa “menggugu dan meniru” dengan memetik sisi keteladanan dari Syafi’i, salah satunya adalah ketekunan dan kegigihannya dalam belajar dan menuntut ilmu.
Judul Buku : Biografi Imam Syafi’i: Kisah Perjalanan dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid
Penulis : Dr. Tariq Suwaidan
Penerjemah : Iman Firdaus Lc,Q. Dipl.
Penerbit : Zaman, Jakarta
Cetakan : I, 2011
Tebal : 312 halaman
Syafi’i memang dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berilmu tinggi. Sejak masa kanak-kanak, ia telah menghafalkan Al-Qur’an. Syafi’i pun tertarik untuk menggeluti hadits. Dipaparkan dalam buku ini, saking banyaknya mendengarkan para muhaddits menyampaikan hadits, Syafi’i berhasil menghafal banyak hadits dengan hanya mendengar.
Kadang ia menuliskannya di atas tembikar, di atas kulit atau tempat lainnya. Al-Muzzani meriwayatkan dari Syafi’i, katanya, “Aku telah menghafal Al-Qur’an saat aku berumur tujuh tahun dan berhasil menghafal al-Muwaththa’ saat aku berumur sepuluh tahun.” Syafi’i juga biasa pergi ke perpustakaan tempat catatan-catatan dan manuskrip-manuskrip disimpan.
Tentang kebiasaan menulisnya, Syafi’i pernah membuat syair: Ilmu bak buruan dan catatan adalah pengikatnya/Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat/Sungguh bodoh jika kau berhasil memburu rusa/Namun kau biarkan ia tak terikat di tengah makhluk lain (halaman 29-31).
Penguasaan keilmuan Syafi’i bisa dikatakan begitu luas. Tak hanya Al-Qur’an dan hadits, ia juga mempelajari banyak hal, seperti sejarah, bahasa, syair, dan sebagainya. Diutarakan Dr. Tariq Suwaidan, Syafi’i memiliki pemikiran yang mendalam.
Dalam segala hal, ia tidak cukup mempelajari luarnya saja, tetapi ia menyelami sampai ke akarnya. Pemahamannya berdimensi jauh dan tak terbatas pada satu titik. Ia selalu ingin mencapai hakikat dengan sempurna. Dalam mengamati segala peristiwa, ia tidak menyimpulkannya secara parsial, tetapi melihatnya secara global. Buahnya, Syafi’i memelopori peletakan pondasi awal ilmu ushul fikih (halaman. 75).
Syafi’i juga memiliki sisi menarik dalam hal berdebat. Saat berdebat, ia selalu menjaga agar tetap bersikap santun.
Ia adalah orang yang cerdas dan pandai berargumen hingga usai berdebat dengannya tak ada orang yang keluar kecuali dengan rasa puas. Putranya Muhammad Abu Utsman menuturkan, “Aku tidak pernah mendengar ayahku berdebat dengan seseorang sambil mengeraskan suaranya.” Syafi’i pernah berkata, “Aku tidak pernah mendebat seseorang karena ingin agar ia salah dan kalah.”
Dalam riwayat lain, ia mengatakan, “Aku tidak pernah mendebat seseorang kecuali untuk memberinya nasehat, dan aku tidak pernah mendebat seseorang dengan maksud ingin mengalahkannya.”(halaman 92-93). Nah, coba bandingkan dengan kita saat berdebat dengan orang lain.
Selain di atas, kita bisa berguru kepada Syafi’i pada banyak hal lainnya. Buku ini bisa memberi inspirasi, motivasi, dan hikmah bagi kita. Pada dasarnya, membaca berulang-ulang riwayat seorang tokoh, apalagi sosok seperti Syafi’i, akan terus ditemukan “makna” .
Oleh : Hendra Sugiantoro (085227052811)
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta


